Rabu, 01 Mei 2013

Konservasi dalam Al-Qur’an dan Ciptaan


Konservasi dalam Al-Qur’an dan Ciptaan
QS. AL -Furqan (25) : 2
الَّذِي لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَلَمْ يَتَّخِذْ وَلَداً وَلَمْ يَكُن لَّهُ شَرِيكٌ فِي الْمُلْكِ وَخَلَقَ كُلَّ شَيْءٍ فَقَدَّرَهُ تَقْدِيراً -٢- وَاتَّخَذُوا مِن دُونِهِ آلِهَةً لَّا يَخْلُقُونَ شَيْئاً وَهُمْ يُخْلَقُونَ وَلَا يَمْلِكُونَ لِأَنفُسِهِمْ ضَرّاً وَلَا نَفْعاً وَلَا يَمْلِكُونَ مَوْتاً وَلَا حَيَاةً وَلَا نُشُوراً -٣-
Artinya :          Yang memiliki kerajaan langit dan bumi, tidak mempunyai anak, tidak ada sekutu bagi-Nya dalam kekuasaan(-Nya), dan Dia Menciptakan segala sesuatu, lalu Menetapkan ukuran-ukurannya dengan tepat.
Terjemahan :   Yang Kepunyaan-Nya-lah kerajaan langit dan bumi, dan Dia tidak Mempunyai anak serta tidak ada sekutu bagi-Nya dalam kerajaan itu. Dan Dia telah Menciptakan segala sesuatu, dan Dia Menetapkan ukurannya dengan tepat.
Alladzī lahū mulku (yang Kepunyaan-Nya-lah kerajaan), yakni semua perbendaharaan.
As-samāwāti (langit), yakni hujan.
Wal ardli (dan bumi), yakni tumbuh-tumbuhan.
Wa lam yattakhidz waladan (dan Dia tidak Mempunyai anak) seperti yang dikatakan oleh orang-orang Yahudi dan Nasrani.
Wa lam yakul lahū syarīkuη fil mulki (serta tidak ada sekutu bagi-Nya dalam kerajaan itu) seperti yang dikatakan oleh kaum musyrikin Arab.
Wa khalaqa kulla syai-in (dan Dia telah Menciptakan segala sesuatu), baik yang mengibadahi-Nya maupun yang tidak mengibadahi-Nya.
Wa qaddarahū taqdīrā (dan Dia Menetapkan ukurannya dengan tepat), yakni Dia Menetapkan ajal mereka, rezeki mereka, dan semua perbuatan mereka dengan takdir. Ada yang berpendapat, Dia Menetapkan jantan dan betina untuk segala sesuatu.
Ayat di atas menyatakan kepada kita bahwa segala sesuatu milik Allah. Ia juga memberitahukan bahwa Dia menciptakan seluruh alam semesta dan segala apa yang ada di dalamnya. Hukum penciptaan termasuk unsur-unsur keteraturan, keseimbangan dan keserasian. Segala sesuatu memiliki batas dalam hal ruang dan waktu dan teknik-teknik ilmiah memungkinkan kita untuk mengukur apa yang kita alami dalam keadaan statis dan dinamis. Misalnya, kita bukan sekedar tahu ukuran bumi tapi juga tahu pergerakannya dan dapat mengukur irama sistem tata surya. Mungkin kita berpikir bahwa kita mengetahui banyak melalui kemajuan ilmu pengetahuan, tetapi sebenarnya kita hanya mengetahui sedikit saja keseluruhan penciptaan. Allah lah sebagai Maha Pencipta yang menguasai alam semesta yang luas dan kompleks dan unsur-unsur penciptaan yang tak terhingga banyaknya dan hanya Dia yang mengetahui bagaimana mereka bekerja dalam keseluruhan.
 CIPTAAN
Kita adalah bagian dari sebuah galaksi bintang-bintang yang luas tak terkira yang membuat sistem tata surya kita terlihat kecil. Matahari yang memberi kehidupan kepada kita berada 93 juta mil jauhnya. Satelit bumi yang bernama bulan, adalah seperempat juta mil jauhnya tapi ia mengendalikan gelombang laut dan mempengaruhi sistem cuaca . Lapisan atmosfir pelindung yang membalut bumi, yang menempel padanya oleh daya tarik [grafitasi], tidak lebih tebal dari kulit tomat. Dapat dikatakan bahwa kita sedang berlayar di lautan angkasa raya yang tak terbayangkan dalam sebuah perahu yang dibuat sangat sempurna dan mengatur sendiri. Misalnya, jika bumi hendak menggeser garis edarnya dari posisi sekarang satu atau dua derajat saja, maka kita semua akan terbakar hidup-hidup, atau bila ia bergeser mundur, maka kita semua akan mati beku. Kita berada pada posisi kita sendiri dan kita semua harus menggelola hidup kita dalam sumber daya yang terbatas tapi sangat bernilai yang Allah telah berikan kepada kita.


AL QUR’AN CIPTAAN DAN KONSERVASI
Keanekaan dalam penciptaan saat ini disebut keragaman hayati. Terdapat kesatuan dan keterkaitan yang mengagumkan dalam keanekaan penciptaan ini. Hutan-hutan tropis dan hutan temperate dapat dibagi ke dalam beberapa sub-tipe sesuai dengan ketinggian, cakupan di atas permukaan laut dan curah hujan. Mereka berfungsi sebagai sistem pengaturan dan pasokan bagi bumi. Beberapa dari fungsi utama hutan adalah: sebagai penampung air yang membentuk sungai-sungai, mengendalikan iklim dengan uap yang mereka hasilkan; menstabilkan iklim dengan menyerap radiasi bumi, sebagai tempat penyimpanan karbon dioksida; dan mencegah erosi dengan menahan tanah. Hutan-hutan juga berperan sebagai hunian bagi jutaan jenis satwa dan tanaman. Walaupun banyak yang tidak kita ketahui dari flora dan fauna ini, mereka secara bersama-sama memberikan kesejahteraan bagi bumi dan manfaat bagi manusia.
.
Qur’an Surat.Al-An’am(6):38
أَمْثَالُكُم أُمَمٌ إِلاَّ بِجَنَاحَيْهِ يَطِيرُ طَائِرٍ وَلاَ الأَرْضِ فِي دَآبَّةٍ مِن وَمَا
 -٣٨- يُحْشَرُونَ رَبِّهِمْ إِلَى ثُمَّ شَيْءٍ مِن الكِتَابِ فِي فَرَّطْنَا مَّا

Artinya :  Dan tidak ada seekor binatang pun yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan semuanya merupakan umat-umat (juga) seperti kamu. Tidak ada sesuatu pun yang Kami Luputkan di dalam Kitab,** kemudian kepada Tuhan mereka dikumpulkan.
------------------------------------------------------------------
**Sebagian mufasir menafsirkan Kitab itu dengan Lauh Mahfuzh, yang berarti bahwa nasib semua makhluk itu sudah dituliskan (ditetapkan) dalam Lauh Mahfuzh. Dan ada pula yang menafsirkannya dengan al-Quran, dengan arti dalam al-Quran itu telah ada pokok-pokok agama, norma-norma, hukum-hukum, hikmah-hikmah dan tuntunan untuk kebahagiaan manusia di dunia dan akhirat.
 Dan tiadalah binatang-binatang yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya melainkan umat-umat seperti kalian juga. Tiadalah Kami Melupakan di dalam kitab sesuatu pun, kemudian hanya kepada Rabb-nya mereka dikumpulkan.
Wa mā miη dābbatiη fil ardli wa lā thā-iriy yathīru bi janāhaihi (dan tiadalah binatang-binatang yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya) di antara langit dan bumi.
Illā umamun (melainkan umat-umat), yakni makhluk dan hamba.
Amtsālukum (seperti kalian juga), yakni makhluk seperti halnya kalian, sama-sama makan, bersetubuh, dan saling memahami satu sama lain, seperti halnya kalian saling memahami dengan sesama manusia. Itu semua merupakan tanda yang mengagumkan bagi kalian.
Mā farrathnā fil kitābi (tiadalah Kami Melupakan di dalam kitab), yakni Kami tidak Melalaikan apa yang Kami catat di Lauh Mahfuzh.
Miη syai-in (sesuatu pun), kecuali telah Kami Terangkan di dalam al-Quran.
Tsumma ilā rabbihim (kemudian hanya kepada Rabb-nya), yakni burung-burung dan binatang-binatang itu.
Yuhsyarūn (mereka dikumpulkan) pada hari kiamat nanti, bersama seluruh makhluk.
Setiap makhluk hidup adalah bagian dari ummat. Mereka mengorganisir dan bertindak sedemikian rupa untuk bertahan hidup dan bukti dari hal ini adalah cara mereka hidup dalam keseimbangan dengan lingkungan mereka masing-masing. Paus raksasa yang menghuni lautan, gajah-gajah di hutan-hutan tropis dan semut serta lebah adalah contoh-contoh makhluk-makhluk yang membentuk umat yang multi-generasi, efisien dan rumit. Migrasi tahunan massal seperti gerombolan burung-burung yang terbang setiap tahun dari zona cuaca tertentu ke zona cuaca yang lain, pergerakan-pergerakan rusa Reideer di tundra dan beruang liar di Savana Afrika adalah contoh-contoh jelas dari satwa-satwa yang bekerja sama untuk bertahan hidup.
KHALIFAH DI MUKA BUMI
Qur’an, S. Al-An’am (6):165
دَرَجَاتٍ بَعْضٍ فَوْقَ بَعْضَكُمْ وَرَفَعَ الأَرْضِ خَلاَئِفَ جَعَلَكُمْ الَّذِي وَهُوَ
 -١٦٥- رَّحِيمٌ لَغَفُورٌ وَإِنَّهُ الْعِقَابِ سَرِيعُ رَبَّكَ إِنَّ آتَاكُمْ مَا فِي لِّيَبْلُوَكُمْ
Artinya :          Dan Dia-lah yang Menjadikan kamu sebagai khalifah-khalifah di bumi dan Dia Mengangkat (derajat) sebagian kamu di atas yang lain, untuk mengujimu atas (karunia) yang Diberikan-Nya kepadamu. Sesungguhnya Tuhan-mu sangat cepat Memberi hukuman dan sungguh, Dia Maha Pengampun, Maha Penyayang.
Terjemahan : Dan Dia-lah yang Menjadikan kalian penguasa-penguasa di bumi dan Dia Meninggikan sebagian kalian atas sebagian yang lain beberapa derajat, untuk menguji kalian tentang apa yang Dia Berikan kepada kalian. Sesungguhnya Rabb kalian amat cepat Siksaan-Nya, dan sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Wa huwal ladzī ja‘alakum khalā-ifal ardli (dan Dia-lah yang Menjadikan kalian khalifah di bumi), yakni pengganti umat-umat terdahulu di muka bumi.
Wa rafa‘a ba‘dlakum fauqa ba‘dliη darajātin (dan Dia Mengangkat sebagian kalian atas sebagian yang lain beberapa derajat), yakni beberapa kelebihan dalam hal harta dan pelayan.
Li yabluwakum fī mā ātākum (untuk menguji kalian tentang apa yang Dia Berikan kepada kalian) berupa harta benda dan pelayan.
Inna rabbaka sarī‘ul ‘iqābi (sesungguhnya Rabb kalian teramat cepat Siksaan-Nya) terhadap orang-orang yang kafir dan tidak bersyukur kepada-Nya.
Wa innahū la ghafūrun (dan sesungguhnya Dia Maha Pengampun), yakni Maha Pemberi Maaf.
Rahīm (lagi Maha Penyayang) terhadap orang-orang yang beriman kepada-Nya.
Khalifah atau peran penjagaan adalah tugas suci yang diberikan Allah kepada ras manusia. Kita lebih dari sekedar kawan bumi – kita adalah penjaga-penjaga. Tanggung jawab ini berasal dari kenyataan bahwa tidak seperti makhluk bernyawa lain, kita telah diberi keistimewaan dalam hal kemampuan bernalar dan karena itu sangat bertanggung jawab atas tindakan-tindakan kita. Dalam perilaku gajah, paus dan semut kita dapat menemukan intelegensi tetapi tidak seperti manusia, binatang kebanyakan bertindak dalam pola instink yang sudah terduga.
KERUSAKAN
Qur’an Surat, al-Ruum (30): 41

بَعْضَ لِيُذِيقَهُم النَّاسِ أَيْدِي كَسَبَتْ بِمَا وَالْبَحْرِ الْبَرِّ فِي الْفَسَادُ ظَهَرَ
 -٤١- يَرْجِعُونَ لَعَلَّهُمْ عَمِلُوا الَّذِي بَعْضَ لِيُذِيقَهُم النَّاسِ أَيْدِي كَسَبَتْ بِمَا وَالْبَحْرِ الْبَرِّ فِي الْفَسَادُ ظَهَرَ
 -٤١- يَرْجِعُونَ لَعَلَّهُمْ عَمِلُوا الَّذِي

Artinya :       Telah tampak kerusakan di darat dan dilaut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah Menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).
Terjemahan : Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan ulah tangan-tangan manusia supaya Dia Merasakan kepada mereka sebagian dari perbuatan mereka agar mereka kembali.
Zhaharal fasādu (telah tampak kerusakan), yakni telah jelas kemaksiatan.
Fil barri (di darat), sejak Qabil membunuh saudaranya, Habil.
Wal bahri (dan di laut), sejak Jalnadan al-Azdi.
Bi mā kasabat aidin nāsi (disebabkan ulah tangan-tangan manusia): Qabil membunuh Habil dan Jalnadan merampas kapal orang-orang di laut. Ada yang berpendapat, zhaharal fasādu (telah tampak kerusakan) berupa kematian hewan-hewan ternak, kelaparan, kekeringan, serta kekurangan buah-buahan dan pepohonan; fil barri wal bahri (di darat dan di laut), yakni kerusakan tersebut tampak, di dataran, pegunungan, sahara, gurun, dan di lautan. Demikian juga di pedusunan, perkampungan, dan pemukiman; bimā kasabat aidin nāsi (disebabkan ulah tangan-tangan manusia), yakni disebabkan kemaksiatan manusia.
Li yudzīqahum (supaya Dia Merasakan kepada mereka), yakni supaya Dia Menimpakan kepada mereka.
Ba‘dlal ladzī ‘amilū (sebagian dari perbuatan mereka), yakni sebagian akibat dari kemaksiatan-kemaksiatan itu.
La‘allahum yarji‘ūn (agar mereka kembali), yakni agar mereka kembali (bertobat) dari dosa-dosa mereka, lalu Dia Menghilangkannya dari mereka.
Segala sesuatu sekarang menunjukkan fakta bahwa manusia telah melalaikan tanggung jawabnya sebagai khalifah dengan cara menghancurkan alam – ciptaan Allah. Anggapan-anggapan tentang kemajuan biasanya difahami sebagai kesejahteraan tanpa batas untuk semua. Tetapi sumber daya materi kita berasal hanya dari satu sumber, dan itu adalah bumi, yang bukan tak terbatas. Kita membuat diri kita sendiri nyaman dengan apa yang sekarang disebut sebagai gaya hidup konsumtif tetapi sedikit sekali perhatian kepada akibat-akibat dari tindakan kita. Kita memompa gas beracun ke udara yang kita hirup dan menebar pencemar kedalam air yang kita minum pada tingkat yang membahayakan sehingga resiko serius sekarang merasuk ke dalam kesehatan kita. Para ilmuwan membenarkan bahwa tindakan-tindakan kita mengakibatkan pemanasan global dan perubahan iklim yang telah merusak pola penciptaan Allah, yang telah memberikanplanet bumi iklim yang cocok bagi pengembangan dan pelestarian hidup.
KEPUNAHAN
Jika seluruh periode kehidupan planet ini diibaratkan dengan waktu satu tahun, spesies manusia telah berada di atasnya kurang dari 12 jam pada hari terakhir. Kita adalah para pendatang terakhir di atas bumi yang dulu berlimpah ini dan nampaknya sampai baru-baru ini kita berupaya untuk hidup bersama secara harmonis dengan makhluk-makhluk Allah lainnya. Selama 400 tahun sampai tahun 1950, tiap tahun rata-rata satu spesis musnah untuk selamanya akibat tindakan manusia. Pada tahun 1985, tingkat kepunahan melompat ke satu spesies per hari. Diperkirakan pada pergantian millenium ini lebih dari 100 spesis akan musnah per hari sebagai akibat langsung dari ulah manusia. Tidaklah berlebihan untuk mengatakan bahwa kita juga sedang menciptakan kondisi yang menempatkan spesis manusia berada dalam bahaya kepunahan.
KESEIMBANGAN
Qur’an, S. Ar Rahman (55):1-7
mmm
Qur’an, S. Ar Rahman (55):1-7
Qur’an, S. Ar Rahman (55):1-7
الشَّمْسُ -٤- الْبَيَانَ عَلَّمَهُ -٣- الْإِنسَانَ خَلَقَ -٢- الْقُرْآنَ عَلَّمَ -١- الرَّحْمَنُ
 الْمِيزَانَ وَوَضَعَ رَفَعَهَا وَالسَّمَاء -٦- يَسْجُدَانِ وَالشَّجَرُ وَالنَّجْمُ -٥- بِحُسْبَانٍ وَالْقَمَرُ
 -٧-
ا
Artinya : (Tuhan) Yang Maha Pemurah, Yang telah mengajarkan Al-Qur’an. Dia menciptakan manusia. Mengajarkannya pandai bicara. Matahari dan bulan (beredar) menurut perhitungan. Dan tumbuh-tumbuhan dan pohon-pohonan keduanya tunduk kepada-Nya. Dan Allah telah meninggikan langit dan Dia meletakkan neraca (keadilan).

Tidak seperti spesies lain dalam penciptaan, manusia secara istimewa dianugrahi kemampuan bernalar dan merumuskan pikiran-pikirannya yang rumit. Ayat-ayat al-Qur’an ini juga memberi tahu kita bahwa terdapat keteraturan dan makna dalam penciptaan. Jika matahari dan bulan tidak mengikuti orbit yang tetap dan ciptaan-ciptaan lain tidak berfungsi seperti yang dirancang, kehidupan di muka bumi akan menjadi sebuah ketidakmungkinan. Terdapat keseimbangan melekat dan kecenderungan terhadap stabilitas dalam susunan alam. Ada cara lain untuk mengatakan bahwa seluruh ciptaan tunduk kepada satu Pencipta. Karena itu sebagai khalifah Allah di muka bumi kita bertanggung jawab untuk bertindak adil, secara aktif memelihara keseimbangan dan keteraturan yang melingkungi kita dan melakukan apa saja yang mungkin untuk mempertahankannya demikian.
Planet bumi ini unik. Segala sesuatu yang bisa dibandingkan dengan bagian-bagian lain alam semesta masih belum ditemukan oleh para astronom. Warna hijau yang menutupi bumi sangat penting untuk semua bentuk kehidupan. Tutupan tanaman menyediakan dasar bagi semua mata rantai makanan, menyambungkan siklus air, menstabilkan iklim mikro dan melindungi tanah, landasan biosfer. Legiun-legiun mikro-organisme dan mikrobakteri dalam gumpalan lumpur dan belukar dasar laut, bekerja tanpa henti mendaur-ulang bahan-bahan buangan kembali masuk ke dalam sistem nutrisi bumi. Ekosistem bumi mengorganisir, mengatur dan mengisi dirinya sendiri. Demikianlah alam diciptakan sehingga ia berada dalam keadaan keseimbangan yang dinamis setiap waktu. Manifestasi luar dari ini adalah kekuatan-kekuatan dasar seperti angin dan hujan yang kita dapat lihat dan rasakan. Tapi ada juga kegiatan tanpa henti di bawah permukaan bumi dan di tingkat yang lebih dalam di bawahnya. Hasil akhir dari ini adalah bahwa bumi seperti yang kita lihat, hidup dengannya dan menikmatinya rumah kita dengan kemungkinan-kemungkian yang tak berakhir.
Seluruh ciptaan bekerja karena mereka mengikuti hukum Sang Pencipta. Cara lain menjelaskan ini adalah bahwa ciptaan hanya bekerja karena ia benar-benar tunduk kepada kehendak Allah sehingga memelihara keseimbangan pola yang telah ditentukan. Satu-satunya makhluk yang dapat bertindak berlawanan dengan pola ini dan mengacaukan keseimbangan tersebut adalah manusia yang bertindak demikian dengan menggunakan kekuatan nalar yang telah diberikan Allah kepadanya. Maka Shalat menjadi dorongan penyeimbang yang menuntut kita berserah diri. Wujud fisik dari penyerahan adalah menempatkan kening kita di atas bumi dalam ketundukkan kepada Sang Pencipta. Ini mengingatkan kita bahwa pada akhirnya memelihara kesimbangan ciptaan memerlukan kesadaran terus menerus akan kehendak dan tindakan Allah, sehingga menjaga kita tetap selaras dengan diri kita sendiri dan segala ciptaan lainnya.
Pustaka
Fachruddin Mangunjaya; Konservasi Alam Dalam Islam. Yayasan Obor Indonesia, Jakarta,
2005.
Al- Qur’an AL Qalam

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar